Menyusuri Sejarah Islam Kediri: Akulturasi Budaya & Makam Wali

Ketika mendengar nama Kediri, banyak orang mungkin langsung teringat pada kerajaan Hindu-Buddha kuno yang megah atau kuliner khasnya, tahu takwa. Namun, di balik citra kuat tersebut, Kediri menyimpan lapisan sejarah yang tak kalah penting: jejak penyebaran Islam yang unik dan mendalam. Kota ini adalah “Kota Santri” yang senyap, tempat di mana akulturasi budaya bertemu dengan spiritualitas para wali.

Perjalanan sejarah Islam di Kediri memperlihatkan proses yang kompleks. Islam di Kediri tidak menghapus warisan masa lalu, tetapi membangun dialog dan menyatu dengannya. Dengan cara itu, Kediri menampilkan kanvas hidup sejarah Islam di Jawa Timur melalui makam para ulama yang diyakini sebagai guru spiritual Prabu Joyoboyo, serta pondok pesantren legendaris yang telah melahirkan ribuan ulama Nusantara.

Artikel ini akan membawa Anda menelusuri situs-situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Islam di Kediri.

Setono Gedong: Simbol Akulturasi Islam dan Hindu-Buddha

Titik tolak paling ikonik untuk memahami sejarah Islam Kediri adalah Kompleks Setono Gedong, yang terletak di jantung kota. Ini bukan sekadar kompleks pemakaman biasa; ini adalah monumen akulturasi budaya yang luar biasa.

Masyarakat Kediri menghormati Syekh Al Wasil Syamsudin, tokoh sentral penyebaran Islam awal yang lebih dikenal sebagai Mbah Wasil, sosok berwibawa yang menyimpan sedikit misteri. Selain itu, beberapa riwayat menyebut beliau berasal dari Persia (Abarkuh) atau Turki, sementara itu, para sejarawan mengemukakan dua versi utama mengenai masa kehidupannya.

Versi pertama, yang paling menakjubkan, menyebut Mbah Wasil hidup pada era Prabu Sri Aji Joyoboyo (abad ke-10 atau 11), jauh sebelum era Walisongo. Beliau diyakini diundang sang raja sebagai penasihat spiritual untuk membahas kitab-kitab kuno. Versi kedua menempatkan beliau pada abad ke-14, sezaman dengan Walisongo. Terlepas dari versi mana yang paling akurat, peran Mbah Wasil sebagai perintis dakwah Islam di Kediri tidak terbantahkan.

Jejak Akulturasi yang Unik di Setono Gedong

Keunikan Setono Gedong terletak pada arsitekturnya. Saat memasuki kompleks, peziarah menemukan sebuah Gapura Paduraksa, gerbang megah bergaya Hindu-Jawa, yang menyambut mereka alih-alih arsitektur masjid khas Timur Tengah.

Lebih jauh ke dalam, bukti akulturasi semakin jelas. Masyarakat meyakini bahwa Masjid Tiban di kompleks ini berdiri di atas pondasi bekas candi Hindu. Para peneliti juga menemukan berbagai artefak, seperti lapik arca (alas patung) dan fragmen relief. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Islam di Kediri tumbuh secara damai, merangkul dan berdialog dengan budaya yang telah mapan, bukan menghancurkannya.

Pusat Ziarah Para Pembesar

Setono Gedong memiliki arti “Makam Para Pembesar”. Selain Mbah Wasil, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh penting lainnya. Salah satu tokoh yang paling menonjol adalah Sri Susuhunan Amangkurat III, Raja Mataram Islam yang mengalami pengusiran dari keratonnya dan meninggal dalam pengasingan di Sri Lanka, sebelum keluarganya memindahkan jenazahnya ke Kediri.

Makam Auliya Tambak: Warisan Kharismatik Gus Miek

Bergeser dari sejarah kuno ke era yang lebih modern, spiritualitas Islam di Kediri terus bersinar melalui sosok KH. Hamim Tohari Djazuli, atau Gus MiekSelain itu, beliau menjadi salah satu wali (auliya) paling kharismatik di abad ke-20 dan menyebarkan dakwah dengan cara yang nyentrik, sehingga mampu merangkul semua kalangan, termasuk mereka yang terpinggirkan.

Makam Gus Miek terletak di Kompleks Makam Auliya Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo. Wafat pada tahun 1993, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Gus Miek mendirikan majelis zikir Jantiko Mantab dan Sema’an Al-Qur’an (mendengarkan pembacaan Al-Qur’an), dua amalan yang kini telah menyebar hingga ke berbagai belahan dunia. Selain itu, para peziarah yang berkunjung ke Makam Auliya Tambak mengenang Gus Miek sekaligus merasakan energi spiritual dari para ulama lain yang dimakamkan di sana, seperti Syaikh Abdul Qodir Al Khairi.

Masjid Agung Kota Kediri: Landmark Syiar di Jantung Kota

Sebuah kota Islam tidak lengkap tanpa masjid jami’ (agung) sebagai pusatnya. Masjid Agung Kota Kediri, yang berdiri megah di sisi barat Alun-Alun, adalah simbol syiar Islam di era modern.

Didirikan pertama kali pada tahun 1771, masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi besar. Arsitekturnya memadukan gaya Jawa dengan atap joglo tumpang tiga dan sentuhan modern Timur Tengah pada kubah serta menara. Berlokasi strategis, Masjid Agung Kediri berfungsi sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial keagamaan masyarakat.

Pilar Pendidikan Islam: Sejarah Pondok Pesantren Lirboyo

Membahas sejarah Islam Kediri tentu tidak akan lengkap tanpa menyebut Pondok Pesantren Lirboyo. Pasalnya, pesantren yang didirikan pada tahun 1910 oleh KH. Abdul Karim (Mbah Manaf) ini telah berkembang menjadi salah satu pilar utama pendidikan Islam tradisional (Ahlussunnah wal Jama’ah) di Indonesia.

Lirboyo adalah sebuah “kota” di dalam kota. Puluhan ribu santri dari berbagai daerah menimba ilmu di sini. Sejarahnya yang panjang dalam mencetak ulama-ulama besar dan perannya dalam perjuangan kemerdekaan menjadikan Lirboyo sebagai situs sejarah Islam yang hidup dan terus berkembang.

Jejak Dakwah Awal Lainnya di Kediri

Selain empat pilar utama di atas, Kediri masih menyimpan jejak ulama lain:

  • Syekh Abdullah Mursyad dimakamkan di Kecamatan Banyakan dan diyakini hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-15 atau ke-16). Beliau menyebarkan ajaran Islam dengan menggunakan media kesenian lokal berupa Kentrung, metode dakwah yang mirip dengan Sunan Kalijaga.
  • Menara Asmaul Husna: Berdiri menjulang setinggi 99 meter di kompleks Pondok Pesantren Wali Barokah, menara ini adalah landmark religius modern di Kediri. Meski tergolong baru, ia melambangkan kesinambungan identitas Islam di kota ini.

Kesimpulan: Kediri, Kota Ziarah yang Kaya Sejarah

Perjalanan menyusuri sejarah Islam Kediri merupakan perjalanan yang membuka mata. Di awal langkah, kita menyaksikan Islam tumbuh subur melalui akulturasi yang damai di Setono Gedong. Selanjutnya, kita melihat kharisma spiritualitas yang terus hidup melalui warisan Gus Miek. Pada akhirnya, kita menyadari bagaimana institusi seperti Lirboyo tetap menjaga fondasi keilmuan Islam agar tetap kokoh dari masa ke masa.

Bagi siapa pun yang tertarik pada wisata religi atau sejarah, Kediri menawarkan paket lengkap: sebuah ziarah yang menenangkan jiwa sekaligus memperkaya wawasan tentang uniknya peradaban Islam di Nusantara.